Bripda Taufiq: Sabhara DIY, Ini Mimpi Yang Jadi Nyata

bripda taufiq yulza

Muhammad Taufiq Hidayat yang lebih dikenal dengan sebutan Bripda Taufiq adalah sosok panutan dari keluarga sederhana. Tinggal di rumah bekas kandang sapi tidak membuatnya mundur untuk mewujudkan impiannya menjadi seorang polisi.
Sedari SMP ia sudah bercita-cita menjadi seorang polisi yang gagah dan berwibawa. Ia sering berangan-angan jika suatu saat ia menjadi seorang polisi, ia akan terlihat keren bersama seragam cokelat dan topi baretnya.
“Jujur saja dulu melihat hanya dari kasat mata, polisi itu berwibawa, apalagi kalau pas lagi pakai seragam,” kata Bripda Taufiq di Gedung Shabara Polda DIY.
Awalnya ia pesimis dengan ekonomi keluarganya, konon katanya menjadi seorang polisi bukanlah hal yang mudah dan harus mempunyai uang yang lumayan banyak. Namun berkat semangat sahabat dan ayahnya, ia bertekat menjadi polisi telah lulus SMA.
Taufiq semasa SMA mulai berlatih fisik, dan bergabung dengan ekstra kulikuler Pramuka yang kemudian mengenalkannya pada Saka (Satuan Karya) Bhayangkara. Disana ia mendapatkan banyak pengalaman berharga yang digunakannya saat mendaftar polisi.
Usaha tanpa doa adalah sombong, itu sebabnya Bripda Taufiq puasa senin kamis sebelum mengikuti tes polisi. Dan usahanya tak sia-sia, akhirnya ia lulus dan diterima menjadi seorang polisi. Hampir ia tak percaya dengan pencapaian ini.
“Pas pengumuman sama bapak, saya minta bapak nampar saya, ternyata bukan mimpi. Bahkan waktu sampai SPN saya masih nggak percaya,” ungkapnya.
Sedih memang, melihat Bripda Taufiq hidup bersama ayah dan 3 orang adiknya di kamar sempit 4×7 meter. Dan naasanya, meski rumah kecil itu dibangun di bekas kandang sapi, keluarganya tetap harus membayar uang sewa tanah.
“Itu tanah khas desa jadi tetap harus bayar, dulu saya punya rumah di Jongke juga, tapi dijual setelah orang tua berpisah,” ujarnya.
Saat malam tiba, Bripda Taufiq tidur bersama dengan tiga adiknya di dalam rumah. Sementara ayahnya tidur di bak mobil tua miliknya yang biasa dipakai untuk menambang pasir.
“Nggak ada tempatnya, jadi bapak tidur di bak mobil,” katanya singkat.
Setelah menjadi seorang polisi, sesekali ia sering tidur di Polda, sebab ia kasihan melihat ayahnya tidur di mobil dengan bak terbuka. Jika hujan, pasti ayahnya kehujanan.
Kisah Bripda Taufiq begitu menginspirasi, ini mengajarkan kepada semua masyarakat untuk mengejar impiannya selagi masih bisa berusaha dan berdoa. (http://www.kabarmaya.com)

Komentar

Selamat pagi...