Kisah Ketegasan Sikap Sang Polisi Jujur Bibit Samad Rianto

Mulai dengan kisah lucu saat Bibit Samad Rianto (BSR) jadi Rektor Unbhara. Seorg seniornya, mantan jenderal polisi, telpon BSR, minta tolong.Jend. Purn itu minta agar anaknya diluluskan dalam ujian akhir. "Mohon bantu ya Mas Bibit, anak saya itu bodo. Kalau ga dibantu ya ga lulus."
“Duh, maaf Pak, saya ga bisa bantu. Itu sepenuhnya wewenang tim penguji", jawab Bibit. Jend itu kesal, “ya sudah. Saya telpon tim penguji saja”.
Ketika ujian berlangsung, ternyata BSR ganti tim penguji dan dia ikut sebagai salah satu tim penguji. Si anak kaget. Lapor ke Bapaknya. Si anak Jenderal purn itu tetap diuji oleh tim yang BSR ada di dalamnya. Selesai menguji, si Jenderal tersebut telpon lagi ke BSR.
“Lho Mas. Kok, kamu malah ganti tim penguji. Maksudmu iku opo? Lalu BSR jawab : "Pak, untuk lulus ujian itu hanya 1 caranya: belajar !”
“Ga bisa lulus dengan cara telpon tim penguji. Kita ini kan Korps Bhayangkara. Harus jujur dimulai dari dasar ya itu kayak pendidikan ini. Jika untuk lulus ujian saja kita sudah tidak jujur, bgmn kita bisa melayani masyarakat. Tapi, Bapak tenang saja ... anak Bapak tadi lulus kok. Anak Bapak lulus bukan karena kami luluskan, tapi memang pantas lulus meski nilainya kurang memuaskan. Begitu lho Pak" ujar BSR.
Kisah unik lagi saat BSR jadi wakil ketua KPK. Waktu itu mantan Kapolri Rusdihardjo sedang diusut KPK karena korupsi Dana TKI di Malaysia. Rusdihardjo adalah dubes RI untuk Malaysia. Di Kedubes & Konjen RI di Malayasia terjadi pungutan pada TKI dengan tarif ganda. Dubes terlibat. Saksi-saksi dan bukti-bukti menunjukan Dubes Rusdihardjo terima uang haram jutaan ringgit (milyaran Rp). KPK tangkap beberapa anak buahnya yang terlibat.
Melalui seorang temannya, Rusdihardjo minta tolong kepada BSR yang dulu pernah dia khianati demi raih jabatan Kapolri. Dia minta diamankan. Apa jawab BSR ketika sahabat karibnya sampaikan permohonan agar Rusdihardjo dibela, diamankan? "Mas, aku ga bisa bantu. Mohon maaf”.
“Tapi, mas Bibit kan mudah saja kalau mau bantu. Mas cukup tidak setuju, maka beliau tidak jadi TSK. KPK kan kolegial”, balas temannya itu.
BSR jawab lagi, “Kalau saya tidak setuju, itu artinya saya melawan Tuhan". "Lho, kok gitu Mas?" tukas temannya.
“Bener mas. Masalah Pak Rusdihardjo itu karena Tuhan. Sejak dia khianati saya dulu, saya tiap hari wirid minta ke Gusti Allah berlaku adil. Nah, masak ketika Gusti Allah turunkan keadilannya, saya mau intervensi? Ora wani aku”, katanya ...teman BSR pun jadi malu hati.
Meskipun begitu, saat voting tentukan status Rusdihardjo sebagai tersangka atau tidak, BSR tanpa diketahui temannya ambil sikap abstain. Jika BSR saat itu menolak, maka Rusdihardjo tidak akan pernah jadi TSK dan korupsinya tidak pernah diadili. Dia dihukum bersalah & dipenjara.
Jadi meskipun saat itu ada pimp KPK unsur Polri, tetap saja oknum-oknum polisi yang korup diseret ke penjara oleh KPK. BSR tidak khianati amanah.
Saat jadi Waka KPK adalah masa-masa BSR & keluarga bisa hidup lebih layak. Dia tidak mesti pergi ke Pasar Tebet atau Istiqlal untuk beli jas bekas. Salah satu temannya yang kaya raya yaitu Willy Junaedi sampai bosen nawari bantuan uang ke BSR. Dia ga pernah mau. Dia tolak secara halus. Willy ini juga teman dekat banget dengan SBY. Pernah sekali waktu saat SBY Danrem di Jogya, Willy tawarkan kasih mobil mewah ke SBY. SBY tertawa saat itu. Dia ajak Willy ke garasi mobilnya. “Mas Willy, coba kamu lihat mobil saya. Ada 3. Ga mewah dan mobil dinas. Kalau kamu kasih saya mobil satu lagi. Apa kata orang tentang SBY? Mobil mewah lagi. Sudahlah. Saya cukup begini", kata SBY.
BSR dan SBY dihubungkan secara tidak langsung melalui hubungan pertemanan mereka dengan Willy. Keduanya sahabat karib Willy. Ketika besan SBY Aulia Pohan dituduh korupsi BI, Willy minta tolong sama BSR, “Mas, bantuin donk... Aulia kan besan SBY. Dia ga korupsi".
“Pak Aulia itu tidak terima sepeserpun uang dari BI. Dia hanya buat keputusan bahwa pejabat-pejabat BI yang terkena masalah hukum, wajib dibela BI. Masak pejabat yang buat kebijakan dihukum korupsi? Wong bukan koruptor kok. Bantu donk Mas. Aulia Pohan ga salah. Ada muatan politiknya”.
Dengan kalem BSR jawab, “Mas, saya ini adalah Pimpinan KPK. Sumpah dan tanggungjawab saya adalah jalankan UU. Menurut UU Pak Aulia Pohan itu bersalah. Saya tahu persis faktanya. Pak Aulia memang tidak terima aliran uang sepeserpun dari anggaran biaya bantuan hukum BI yang dia putuskan. Tetapi, pihak lain telah diuntungkan dengan keputusan Pak Aulia. Dana bantuan hukum itu dikorupsi staf-stafnya. Dia sudah untungkan orang lain. Pimpinan KPK yang lain sudah sepakat untuk tetapkan Pak Aulia jadi TSK. Saya mungkin abstain karena ketetapan itu kurang tepat. Sy ga bisa tolak. Meski menurut saya keputusan para pimp KPK yang lain kurang adil, tapi mereka dan saya harus jalankan ketentuan UU”, kata BSR pada Willy. Akhirnya besan SBY, Aulia Pohan pun dihukum penjara dengan tuduhan korupsi. Diduga ada manuver Antasari & Chandra.
Bagaimana dengan kasus Bibit dan Chandra yang terkenal dengan nama “Cicak vs Buaya” itu? Kasus yang hampir saja menyeret Bibit dan Chandra ke penjara? Saat kasus Cicak vs Buaya terjadi, sebenarnya endingnya bisa berbeda jika Bareskrim hanya tetapkan Chandra Hamzah sendiri jadi TSK. Kesalahan fatal polisi saat itu adalah ikut melibatkan atau menyeret BSR jadi TSK. Akibatnya, publik dan internal Polri pun bergolak.
Chandra Hamzah jelas terindikasi abused of power. Jejak suap dan KKN nya juga banyak. Termasuk pertemuan-pertemuan dengan Nazarudin cs. BSR? Berbeda.
M. Jasin pimp KPK yang lain, malah jelas terkait suap saat itu, ketimbang BSR. Meski Jasin tidak sadar bahwa sudah disuap saat istrinya wafat.
BSR ditetapkan sebagai TSK oleh Polisi hanya karena anaknya yang “agak kurang normal cara berfikirnya” diberi uang 250 juta oleh “temannya”. Gara-gara uang yang diterima anaknya itu, meski BSR tidak tahu infonya, polisi tetapkan BSR jadi TSK. Uang itu sendiri lalu disuruh kembalikan. Akhirnya, dengan desakan publik, kasus "Bican" itu kemudian dideponir. BSR dipulihkan nama baiknya.

Komentar

Selamat pagi...