Polwan Tidak Harus Tomboy

Setiap bulan, para Polisi Wanita (Polwan) diberikan tunjangan kecantikan. 

Tunjangan kecantikan ini diberikan, supaya para Polwan tetap terlihat sisi femininnya. Cantik dan anggun, sehingga menambah rasa percaya diri dalam bertugas.

Di lingkungan Ciputat, Jakarta Selatan, tepatnya di Jalan Ciputat Raya No. 41 Kebayoran Lama, terdapat sekolah polisi wanita (Sepolwan) yang berdiri sejak tahun 1984. Di sekolah tersebut, 80 orang siswa dari berbagai daerah di seluruh Indonesia, sekolah dan tinggal di tempat tersebut. Salah satu siswa yang berasal dari Bali adalah Putu Vera. Vera masuk Sepolwan awal tahun 1996 dengan masa pendidikan selama 11 bulan.
Menurut Vera, yang saat ini sudah berpangkat Brigadir Satu, selama menjalani pendidikan, para siswa wajib mengikuti apel pagi yang dilaksanakan mulai pukul 05.45 sampai pukul 07.00 WIB. Dan selama tiga bulan pertama, siswa digembleng mentalnya, yang antara lain berupa tidak diperbolehkan keluar dari lingkungan sekolah dan tidak diperkenankan menemui anggota keluarga.
Bagi calon siswa baru, jelas Vera kepada indosiar.com, pertama kali dilakukan adalah test kesehatan seperti test fisik dan kejiwaan. Tinggi badan dan berat badan pun harus ideal yaitu 160 sentimeter dan berat badan 50 kilogram. Vera sendiri mempunyai tinggi badan 168 centimeter dan berat badan 50 kilogram.
Materi yang dipelajari para siswa setiap hari antara lain teknisi kepolisian, umum, sosiologi dan penangangan. "Untuk teknisi, masih dibagi menjadi 5 bagian antara lain lalu lintas menangani kecelakaan, intelejen menangani under cover, bimas, serse untuk menangani kriminal dan sabara untuk menjaga pos. Sementara untuk umum, mempelajari masalah HAM, tata krama dan etika", jelas Putu Vera, yang tinggal di mess bersama tiga rekannya yang berasal dari Palembang dan Medan.
Di sekolah Polwan juga ada aturan, seluruh anggota Polwan tidak diperbolehkan mengenakan perhiasan, kecuali cincin perkawinan. Hal tersebut untuk menghindari kesenjangan sosial antara anggota Polwan. Disamping, untuk mewujudkan kesederhanaan dan lebih bersahaja. Selain itu, para siswa tidak boleh berambut panjang melebihi krah baju.
Menurut wanita cantik, kelahiran 27 tahun lalu, untuk kepentingan jasmani dan rohani para siswa, sekolah menyediakan berbagai fasilitas antara lain, tempat ibadah, poliklinik, gedung pertemuan, lapangan olah raga dan asrama.
Bagi siswa yang belum menikah diwajibkan untuk tinggal di asrama. Di Sepolwan ini terdapat 4 mess, yang letaknya tidak jauh dari lokasi sekolah. Bila ada keluarga yang ingin berkunjung ke asrama, disediakan tempat untuk keluarga. Para tamu yang berkunjung hanya diperkenankan datang pada malam hari sekitar pukul 21.00.
Ketika ditanya mengapa dirinya tertarik menjadi Polwan, Vera menceritakan bahwa dulu ia bercita-cita ingin menjadi wanita karier yang bekerja di kantor atau perusahaan. "Tetapi sempat juga sih ada keinginan untuk menjadi Polwan", ujarnya sambil tersenyum.
Diungkapkannya bahwa sebelumnya ia pernah bekerja di bidang pariwisata selama dua tahun di Bali. Namun atas dorongan orang tuanya, ia kemudian mendaftar menjadi polwan dan ternyata diterima. Menurut Vera, menjadi seorang Polwan itu merupakan suatu kebanggaan tersendiri, meski harus jauh dari orang tua yang dicintai dan harus hidup mandiri. "Apalagi hidup di kota besar yang penuh kekerasan seperti di Jakarta ini, tidak seperti di Bali", ucapnya Vera sambil tersenyum.
Orang tua Vera sendiri, merasa bangga mempunyai anak perempuan yang menjadi polwan. Apalagi dua saudara Vera laki-laki yang tinggal di Bali. Orang tua Vera pun selalu memberi dorongan, agar bisa membawa nama keluarga dan masyarakat Bali.
Dengan gaji yang standar, Putu Vera juga mendapat tunjangan kecantikan setiap bulannya. Ini penting, karena Polwan tidak harus berpenampilan tomboy. "Tapi Polwan tidak sebatas cantik fisiknya, tapi juga lahir dan batinnya", tambahnya. Dari penghasilan yang diterimanya setiap bulan, Vera menyisihkan uang untuk ditabung, untuk persiapan masa depan.
Disela-sela pekerjaannya sebagai polwan, Vera juga suka membantu temannya, sebagai wedding planner atau merencanakan pernikahan. Karena itu ia kerap membuat kartu, undangan dan baju pengantin, seperti yang sudah pernah ia lakukan terhadap temannya yang sudah menikah lebih dulu.
Diakhir percakapan, Putu Vera berharap kepada semua masyarakat agar tidak merasa segan terhadap Polwan. Karena Polwan juga berasal dari masyarakat dan untuk masyarakat sebagai pelindung dan pengayom. "Selamat bertugas, Mbak Vera".(www.indosiar.com)

Komentar

Selamat pagi...