Ada Mitra Polisi di Jalur Bontang-Samarinda

Polres Bontang Gelar Patroli, Antisipasi Kerawanan Gunung Menangis
 
Minimnya anggaran untuk peningkatan jalan poros Bontang-Samarinda dipastikan membuat polisi harus bekerja keras. Pasalnya, dengan kondisi jalan rusak parah, potensi terjadinya kecelakaan lalu lintas (lakalantas) masih tinggi. Walaupun beberapa lubang sudah ditambal, namun tekstur jalan yang bergelombang bisa membuat celaka pengendara.

Untuk mencegah terjadinya lakalantas di jalur maut tersebut, Satlantas Polres Bontang pun mengambil tindakan antisipasi. Maklum, jalanan dari Tanah Datar sampai ke Bontang -- kecuali Teluk Pandan -- masuk dalam wilayah hukum Polres Bontang. Caranya dengan upaya pencegahan yang terus-menerus dilakukan.

Kapolres Bontang AKBP Hendra Kurniawan, melalui Kasat Lantas AKP Nur Kholis mengatakan, pencegahan dilakukan lewat beberapa program strategis. Mulai patroli rutin sampai menggandeng “PU Swasta”, yakni masyarakat yang biasanya berada di titik-titik jalan rusak dan berlubang, kemudian menimbun atau memperbaikinya yang kemudian mendapatkan “bayaran” dari sumbangan sukarela pengguna jalan.

“Untuk patroli rutin, kami membagi personel menjadi beberapa regu. Setiap hari tugas mereka memantau arus lalu lintas di jalan poros, terutama di titik-titik rawan lakalantas. Program lain yakni menggandeng masyarakat menjadi mitra kerja polisi. Mereka kami namakan Mitra Polantas. Dalam bekerja, mereka kami beri rompi bertuliskan Mitra Polantas. Tugasnya untuk memberi tanda kepada pengendara yang hendak melintasi jalan rusak, serta cepat memberikan informasi ketika terjadi lakalantas,” ucapnya.

Salah satu kawasan rawan lakalantas yang patut diwaspadai pengguna jalan adalah tanjakan Gunung Menangis. Di antara jalur yang menghubungkan antara utara dan selatan Kaltim, tanjakan itu yang paling fenomenal dan menakutkan. Jalur yang terletak di kilometer 32 (dari arah Bontang) itu sudah kesohor bengis. Semakin bengis karena jalanan bergelombang, berlubang, dan licin, serta ada longsor di tepi tebing.

 “Upaya antisipasi terus kami lakukan. Tidak hanya Gunung Menangis, tapi juga daerah rawan lakalantas dan titik jalan rusak lainnya. Dengan patroli dan menggandeng Mitra Polantas, diharapkan angka lakalantas, khususnya di jalan poros Bontang-Samarinda bisa ditekan,” katanya.

Sebagai informasi, kondisi ruas jalan Bontang-Samarinda beda jauh dengan poros Samarinda-Balikpapan. Khusus pemangkasan Gunung Menangis, janji pemerintah pusat mengalokasikan di APBN Perubahan 2015 belum pasti.

Bidang Bina Marga Dinas PU Kaltim sendiri sudah memperkirakan berapa anggaran yang digunakan untuk perbaikan poros Bontang-Samarinda, yang statusnya jalan nasional. Estimasinya diperkirakan menghabiskan Rp 300 miliar. Pasalnya, ada beberapa segmen yang mesti diubah konstruksinya. Dan jalannya tidak flexible pavement (diaspal), tapi dengan rigid pavement (cor) di titik tertentu. Terutama di daerah yang kerap tergenang air, yakni di Kelurahan Tanah Merah, yang berada di dataran rendah. Termasuk, tanjakan Gunung Menangis yang lebih efisien di-rigid pavement ketimbang di-cut and fill.

Bila keseluruhan di-rigid, memerlukan dana yang tak sedikit. Dengan lebar 8 meter, per 1 kilometer menghabiskan Rp 9 miliar. Karena itu, untuk memuluskan jalan satu-satunya penghubung Bontang-Samarinda sepanjang 125 kilometer itu membutuhkan Rp 765 miliar.

Itu juga tanpa cut and fill. Kalau dengan itu, bisa mencapai Rp 10–12 miliar. Pasalnya, Gunung Menangis selain dipotong juga harus diperlebar supaya ada ruang gerak menanjak. Idealnya, ada jeda jalan datar 100 meter. Bukan terus-terusan menanjak. Sebab, elevasi gunung yang merupakan titik rawan kecelakaan itu mencapai 45 persen.

Sayangnya, tahun ini jalan poros hanya diguyur uang sedikit dari APBN. Khusus tahun ini, total APBN hanya mengguyur 48,2 miliar. Rinciannya, peningkatan jalan Simpang Tiga Sambera-Bontang senilai Rp 36 miliar dan Bontang-Sangatta termasuk longsoran Rp 12,2 miliar. 
sumber: http://www.kaltimpost.co.id

Komentar

Selamat pagi...