5 Kepala Negara yang Berani Pecat Petinggi Polisi Koruptor


Ada berita menarik dari Detik.com yang berjudul: “5 Pemimpin Negara Ini Berani Pecat Petinggi Polisi Koruptor”. Di sini dijelaskan 5 Kepala Negara yang tegas dan berani memecat polisi mereka yang korup. Bukan cuma 10-20 polisi rendahan. Tapi sampai 30 ribu personel polisi (80-90% dari jumlah seluruh polisi)! Bahkan ada yang berani memecat Kepala Polisi negara mereka. Presiden Peru memaksa 30 dari 45 jenderal Polisi untuk Pensiun Dini. Termasuk Kepala Polisinya.
Ini semua demi memberantas korupsi dan menciptakan polisi yang jujur dan bersih.

1. Mikhail Saakashvili, Presiden Georgia

Mikheil Saakashvili, merupakan Presiden Georgia sejak tahun 2004 yang terpilih lagi pada 2008. Pada tahun pertamanya, tepatnya 2005, Mikhail memecat seluruh personel Polisi Lalu Lintas karena terindikasi terlibat korupsi. Mau tahu jumlahnya? 30 ribu personel!
“Pada dasarnya, kami memiliki kekuatan polisi paling korup di dunia,” kata Mikhail seperti dikutip dari situs radio berita NPR pada 15 September 2005 lalu.
Tak hanya main tebas, pada awalnya Mikhail menaikkan gaji polisi, namun tidak memberi fasilitas seperti seragam, mobil dan bahan bakarnya, mendorong polisi agar jujur, bila menerima suap harus memberikan sebagian hasil korupsinya itu pada negara.
“Dan bekerjanya sederhana saja. Pemerintah memberi tahu polisi, ‘Anda ini seharusnya di luar sana, Anda harus memiliki mobil, tapi kami tak ingin memberikan Anda mobil. Anda ingin bensin di mobil, jadi Anda harus mencarinya sendiri. Anda butuh memakai seragam, kami tak peduli dari mana Anda mendapatkannya. Anda hanya harus bertahan sendiri, tentu saja, karena kami tidak akan membayar Anda karena itu sangat simbolik. Dan tidak saja Anda menerima suap dari orang-orang, tapi karena Anda harus membagi penghasilan korup itu pada atasan, maksud saya, pemerintah yang menunjuk Anda,”.

Ternyata, cara itu tak manjur mengurangi korupsi di kalangan kepolisian. Cara itu malah membuat polisi sebagai penjahat yang diberi kewenangan oleh negara.
“Tentu saja saat itu begitu. Dan begitu pula yang kami lakukan, saya maksud, di awal-awal bulan, kami mencoba untuk marah. Anda tahu, kami mendorong mereka untuk jujur, meningkatkan pendapatan mereka. Ternyata, itu tidak membantu. Jadi akhirnya, intinya 80-90 persen polisi dipecat. Kita berbicara tentang 25 ribu-30 ribu orang,” kata Mikhail.
Akhirnya, setelah dipecat seluruh Polantas itu, kekuatan baru yang menggantikan Polantas dibangun, orang-orang baru direkrut. Mikhail membangun kekuatan pengganti Satlantas itu di bawah asistensi Urusan Penegakan Hukum dan Biro Narkotika Internasional Amerika Serikat (AS).
“Jadi ketika orang-orang baru direkrut, butuh 2-3 bulan untuk mencari orang-orang yang bagus, memberikan mereka pelatihan di akademi yang disponsori AS. Namun kami juga memberikan mereka seragam baru yang bagus dengan badge seperti polisi AS, mobil Jerman yang bagus, alat komunikasi buatan AS, kami berikan semua,” imbuhnya.
“Di samping itu, kami berikan mereka 20 kali lipat gaji, dalam beberapa kasus, itu untuk pemula,” tutur Mikhail.
Hasilnya, warga Georgia yang tadi malas berurusan dengan polisi karena disebutnya bikin sakit kepala, sekarang, hal-hal kecil saja, seperti kunci hilang dan masalah keluarga, warga tak segan berurusan dengan polisi.
“Saya pikir angka kriminalitas menurun. Polisi lama dulu sering memukul orang, menyiksa sambil memeras. Polisi yang baru ini terdidik dan terkendali, zero tolerance tentang penyiksaan, zero tolerance,” tegas Mikhail.
(nwk/vit)

2. Jacob Zuma, Presiden Afrika Selatan

Presiden Afrika Selatan, Jacob Zuma memecat Kepala Kepolisian Jenderal Pol Bheki Cele karena dugaan korupsi, seperti dikutip dari BBC, 12 Juni 2012 lalu.
Bheki Cele, yang pendahulunya juga ditahan karena korupsi, ditahan pada Oktober 2012 karena terindikasi melakukan perjanjian properti aset Kepolisian yang melawan hukum. Bheki tentu saja membantah.
Kasus Bheki ini terungkap dari penyidik korupsi Afsel, Thuli Madonsela, yang menyatakan bahwa gedung Kepolisian ini disewa dari perusahaan dengan harga yang jauh lebih tinggi dari yang seharusnya. Thuli menunjuk Bheki bertanggung jawab pada perjanjian fatal yang merugikan itu.
Presiden Jacob Zuma pun memecat Bheki. “Memutuskan untuk membebaskan Jenderal Cele dari tugasnya,” kata Jacob yang juga memecat 2 menterinya karena tersangkut korupsi ini.
Bheki Cele akhirnya digantikan oleh Mangwashi Phiyega, perempuan pertama yang menjadi Kepala Kepolisian.
(nwk/vit)

3. Ollanta Humala, Presiden Peru

Presiden Peru Ollanta Humala memecat 2/3 jajaran petinggi Kepolisian untuk mengatasi akar korupsi. Sekitar 30 dari 45 petinggi Kepolisian, termasuk Kepala Kepolisian Peru dan Kepala Satuan Pemberantasan Narkoba, dipaksa untuk pensiun dini, seperti dikutip BBC pada 11 Oktober 2011 lalu.
Selain karena negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat, juga negara dengan pertumbuhan produksi kokain tercepat, menurut laporan PBB. Posisi Peru ini diperkirakan akan mengambil alih Kolombia dalam produksi kokain.
Nah, sejumlah pejabat Kepolisian yang dipaksa pensiun itu, dituding menerima suap dari para penyelundup narkoba. Namun tindakan Ollanta ini juga menuai kritikan karena dinilai tergesa-gesa, bahkan ada salah satu jenderal yang protes karena dipensiundinikan padahal tidak terlibat dan tidak bersalah.
Ollanta merupakan mantan pejabat militer yang menjadi Presiden Peru terpilih pada 2011 lalu. Dia berjanji akan keras pada korupsi dan penyelundupan narkoba.
(nwk/vit)

4. Alvaro Colom, Eks Presiden Guatemala

Menjabat Presiden Guatamala hingga Januari 2012, namun jejak Alvaro Colom cukup tegas dalam korupsi.
Alvaro pernah memecat Kepala Kepolisian Peru Porfirio Perez dan asistennya Rolando Mendoza, karena menggelapkan barang bukti kokain sebesar 118 kg, seperti dilansir dari Latin American Herald Tribune.
Bahkan Alvaro pernah memecat Mendagri keempatnya Raul Velasquez dan Kepala Kepolisian Peru keempatnya Baltazar Gomes atas kasus korupsi dan dugaan penyelundupan narkoba.

5. Vladimir Putin, Presiden Rusia

Presiden Rusia Vladimir Putin baru saja memecat petinggi kepolisian Rusia yakni Kepala Deputi Komite Investigasi Moskow, Ivan Glukhov, karena dinilai menyalahgunakan kekuasaan.
Tak jelas apa kesalahan Ivan Glukhov hingga dia dipecat. Namun salah satu deputi Glukhov, Nelly Dmitriyeva, dituding menerima suap US$ 3 juta dari 2 pengusaha untuk menutup kasus mereka. Nelly akhirnya ditahan atas kasus penyuapan itu, demikian dilansir dari Moscow Times, 1 Agustus 2012 lalu.
Putin, yang memiliki otoritas untuk mengangkat dan memecat pejabat kepolisian akhirnya menggantikan Ivan Glukhov dengan Mayjen Vladimir Morozov, yang sebelumnya menjadi Kepala Kepolisian Daerah Smolensk.
(nwk/vit)
Selengkapnya bisa dilihat di:
Jika Kepala Negara bisa bersikap tegas terhadap polisi yang korup, entah itu bawahan hingga Kapolri, insya Allah Indonesia bisa mendapatkan polisi yang jujur, bersih, dan amanah yang bisa menjaga keamanan dan melindungi rakyatnya.

Komentar

Selamat pagi...